Dandim 0707 Hadiri Festival Dasasura di Desa Bomerto

Kegiatan Ruwat mata air yang ada di dusun Larangan mengundang r ibuan warga mengikuti kegiatan Festival Dasasura yang dihiasi Sebanyak 1.000 ingkung mewarnai tradisi budaya tahunan ini.di Lapangan Desa Bomerto, Kecamatan Wonosobo, Selasa (10/09/2019).

Festival Dasasura dihadiri oleh, Dandim 0707/Wonosobo Letkol Czi Wiwid Wahyu Hidayat , Kadisparbud One Andang Wardoyo, , Camat Wonosobo Zulfa Akhsan Alim K, Danramil Wonosobo, tamu undangan dan ribuan warga.

Pj. Kepala Desa Bomerto, Eko Widi Nugroho mengungkapkan, Festival Dasasura yang digelar sejak hari Minggu (08/09) lalu ini diisi dengan berbagai kegiatan, diantaranya adalah ziarah kubur, pengajian yang diisi oleh Gus Candra Malik dari Jakarta, hari ini ada pengambilan 4 mata air serta kembul bujono 1.000 ingkung dan pentas wayang kulit dua hari dua malam.

“Acara sekaligus untuk melaksanakan merti desa sebagai wujud rasa syukur warga terhadap anugerah yang telah dilimpahkan Tuhan dalam kelimpahan air dan kesuburan alam di wilayah desa sini,” katanya saat ditemui seusai acara.

Selain itu, lanjutnya, digelarnya Festival Dasasura adalah untuk menciptakan wisata kebudayaan di Desa Bomerto, terutama di Dusun Laranga karena di Dusun Larangan inilah cikal bakal didakannya dasasura. Kedepan, rencananya Festival Dasasura ini akan dikolaborasikan dengan wisata alam di Desa Tlogojati.

“Jadi ketika ada wisatawan ke Tlogojati yang memiliki keindahan alam, maka akan diarahkan untuk mampir ke Bomerto yang memiliki wisata seni budaya, seperti tari-tarian, topeng dan lainnya,” jelasnya.

Dalam Kesempatan itu Komandan Kodim 0707 Wonosobo Letkol Czi Wiwid Wahyu Hidayat,mengungkapkan, Festival Dasasura yang bermula dari Dusun Larangan dan di kemas menjadi even Desa Bomerto ini sangat bagus, karena bisa untuk mengembangkan potensi Dusun Larangan. Langkah selanjutnya yang harus dilakulan adalah dengan mengintegrasikan wisata budaya Desa Bomerto ini dengan desa sekitar. Dengan begitu, diharapkan desa disekitar bisa ikut ramai kunjungan.

“Nanti harus diintegrasikan antara wisata budaya di Desa Bomerto, wisata alam dan rintisan batiknya di Desa Larangan serta wisata budaya di Wonolelo. Sehingga akan saling terkoneksi dan melengkapi pilihan wisata di Kecamatan Wonosobo,” ungkapnya.

Ucapan terima kasih atas terselenggaranya Festival Dasasura ini disampaikan oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud), One Andang Wardoyo. Menurutnya banyaknya even budaya di Wonosobo ini menunjukan bahwa masyarakat mulai menyadari bahwa kebudayaan menjadi salah satu kekuatan untuk membangun karakter dan membangkitkan ekonomi masyarakat.

“Dengan banyaknya kegiatan seperti ini maka nantinya masyarakat akan datang. Walaupun kali ini masih dari masyarakat lokal, tetapi apabila dikemas lebih menarik lagi maka bisa akan mendatangkan masyarakat luas. Kegiatan ini masih diserahkan komunitas, Disparbud belum melakukan apa-apa terhadap kegiatan ini,” ungkapnya.

Dalam Acara tersebut para undangan mencoba menggunakan Panahan untuk melestarikan khasanah budaya Jawa, khususnya Jemparingan tetap eksis dan dikenal oleh masyarakat luas. Komunitas ini bersifat umum dan netral, menghimpun anggota dari semua kalangan, semua agama, dan murni kegiatan budaya, tidak terkait dengan politik.

Jemparingan atau Panahan, memanah dengan gaya Mataram yang bukan saja sekedar olah raga, namun juga olah rasa. Sebagai sarana membentuk watak ksatria dengan mengenakan pakaian Jawa (beskap dan blangkon) para pemanah berlatih dengan suka cita. Bahkan tidak hanya kaum bapak saja, ada beberapa ibu-ibu yang ikut latihan memanah pula.

Dandim 0707 Hadiri Festival Dasasura di Desa Bomerto

kegiatan Ruwat mata air yang ada di dusun Larangan mengundang r ibuan warga mengikuti kegiatan Festival Dasasura yang dihiasi Sebanyak 1.000 ingkung mewarnai tradisi budaya tahunan ini.di Lapangan Desa Bomerto, Kecamatan Wonosobo, Selasa (10/09/2019).

Festival Dasasura dihadiri oleh, Dandim 0707/Wonosobo Letkol Czi Wiwid Wahyu Hidayat , Kadisparbud One Andang Wardoyo, , Camat Wonosobo Zulfa Akhsan Alim K, Danramil Wonosobo, tamu undangan dan ribuan warga.

Pj. Kepala Desa Bomerto, Eko Widi Nugroho mengungkapkan, Festival Dasasura yang digelar sejak hari Minggu (08/09) lalu ini diisi dengan berbagai kegiatan, diantaranya adalah ziarah kubur, pengajian yang diisi oleh Gus Candra Malik dari Jakarta, hari ini ada pengambilan 4 mata air serta kembul bujono 1.000 ingkung dan pentas wayang kulit dua hari dua malam.

“Acara sekaligus untuk melaksanakan merti desa sebagai wujud rasa syukur warga terhadap anugerah yang telah dilimpahkan Tuhan dalam kelimpahan air dan kesuburan alam di wilayah desa sini,” katanya saat ditemui seusai acara.

Selain itu, lanjutnya, digelarnya Festival Dasasura adalah untuk menciptakan wisata kebudayaan di Desa Bomerto, terutama di Dusun Laranga karena di Dusun Larangan inilah cikal bakal didakannya dasasura. Kedepan, rencananya Festival Dasasura ini akan dikolaborasikan dengan wisata alam di Desa Tlogojati.

“Jadi ketika ada wisatawan ke Tlogojati yang memiliki keindahan alam, maka akan diarahkan untuk mampir ke Bomerto yang memiliki wisata seni budaya, seperti tari-tarian, topeng dan lainnya,” jelasnya.

Dalam Kesempatan itu Komandan Kodim 0707 Wonosobo Letkol Czi Wiwid Wahyu Hidayat,mengungkapkan, Festival Dasasura yang bermula dari Dusun Larangan dan di kemas menjadi even Desa Bomerto ini sangat bagus, karena bisa untuk mengembangkan potensi Dusun Larangan. Langkah selanjutnya yang harus dilakulan adalah dengan mengintegrasikan wisata budaya Desa Bomerto ini dengan desa sekitar. Dengan begitu, diharapkan desa disekitar bisa ikut ramai kunjungan.

“Nanti harus diintegrasikan antara wisata budaya di Desa Bomerto, wisata alam dan rintisan batiknya di Desa Larangan serta wisata budaya di Wonolelo. Sehingga akan saling terkoneksi dan melengkapi pilihan wisata di Kecamatan Wonosobo,” ungkapnya.

Ucapan terima kasih atas terselenggaranya Festival Dasasura ini disampaikan oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud), One Andang Wardoyo. Menurutnya banyaknya even budaya di Wonosobo ini menunjukan bahwa masyarakat mulai menyadari bahwa kebudayaan menjadi salah satu kekuatan untuk membangun karakter dan membangkitkan ekonomi masyarakat.

“Dengan banyaknya kegiatan seperti ini maka nantinya masyarakat akan datang. Walaupun kali ini masih dari masyarakat lokal, tetapi apabila dikemas lebih menarik lagi maka bisa akan mendatangkan masyarakat luas. Kegiatan ini masih diserahkan komunitas, Disparbud belum melakukan apa-apa terhadap kegiatan ini,” ungkapnya.

Dalam Acara tersebut para undangan mencoba menggunakan Panahan untuk melestarikan khasanah budaya Jawa, khususnya Jemparingan tetap eksis dan dikenal oleh masyarakat luas. Komunitas ini bersifat umum dan netral, menghimpun anggota dari semua kalangan, semua agama, dan murni kegiatan budaya, tidak terkait dengan politik.

Jemparingan atau Panahan, memanah dengan gaya Mataram yang bukan saja sekedar olah raga, namun juga olah rasa. Sebagai sarana membentuk watak ksatria dengan mengenakan pakaian Jawa (beskap dan blangkon) para pemanah berlatih dengan suka cita. Bahkan tidak hanya kaum bapak saja, ada beberapa ibu-ibu yang ikut latihan memanah pula.

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *